Maaf Kau Tak Bisa Bersamaku

Posted by on Sep 10, 2015 | 1 Comment

Difa duduk berpangku tangan di depan televisi menunggu ibu dan adik perempuannya yang bernama Risa. Mereka bersiap-siap berangkat melihat kesenian Reog di dekat rumahnya. “Ma….sudah siap belun sih? Lama amat, sudah jadi jamur nih aku nunggu berabad-abad lamanya!” Keluh Difa. “Bentaran kenapa sih mbak, hayoo…mau ketemuan ya?” Gurau Risa pada Difa  “Enggak….!” Jawab  Difa dengan cepat.

Akhirnya mereka berangkat melihat kesenian Reog di dekat rumahnya. Difa bukan menyukai keseniannya, namun Difa menyukai keramaiannya. Difa adalah seorang gadia biasa yang ramaah. Suatu ketika Difa sudah bosan dengan keramaian dan mulai merasa kantuk. Difa yang lelah mengajak ibu dan Risa pulang.

Saat Difa berjalan berpaling belakang dengan menyusuri jalan, tiba-tiba ada suara yang memanggil dari belakang. “Difa…apakah itu namamu?” Tanya seorang pemuda dibelakangnya yang sedang mengendarai motornya. “Iya, itu namakau, kamu siapa?” Tanya Difa keheranan sambil terus berjalan lebih cepat. Karena takut jika pemuda tersebut punya niat jahat padanya. Sebelum pemuda itu menjawab pertanyaan Difa, Difa sudah berlari masuk ke halaman rumahnya. Namun ibu menegur Difa. “Nduk (sebutan orang tua suku jawa kepada anak perempuannya) ada temannya main kog pintu rumahnya ditutup, ga sopan nduk!”. Lalu ibu mempersilahkan pemuda tersebut masuk dan menyuruh Difa menemui pemuda tersebut. Dengan wajah malu Difa keluar dan melihat dengan jelas wajah pemuda tersebut. Difa merasa pernah melihat wajah itu dan tidak asing baginya, namun tetap saja Difa tidak mengenal namanya.

Difa pun bertanya “Dari mana kamu tahu namaku? Ngapain ikutin aku? Terus ada urusan apa denganku?”.

Pemuda itu pun hanya tersenyum “Jangan cepat-cepat kalau bicara, kenalkan namaku Dion”. “Aku mengetahui namamu dari temanku. Aku hanya ingin berteman denganmu!”.

Difa yang bingung dan bertambah malu “Oh..baiklah aku mau berteman denganmu, tapi kenapa harus malam-malam begini?”

Dion tersenyum lagi. “Kan baru ini aku ketemu kamu sendiri!”.

Difa hanya diam dan berkata lagi “Ya sudah silahkan pulang sudah jam setengan sembilan nih!”.

“Ok, aku pulang tapi bolehkah aku meminta nomor hp mu?”. Tanya Dion. Dengan ragu Difa memberikan nomor Hp pada Dion. Dion pun kegirangan senyum dan hati berbunga.

“Makasihvya, aku pulang dulu, nanti langaung ku SMS”. Dengan senyum lebar Dion memakai sandal dan bergegas menyalakan motornya. Difa yang bengong melihat tingkah Dion yang aneh langsung menutup pintunya.

Keeaokan pagi suara ibu yang lembut membangunkan Difa untuk sholat subuh. “Difa cepet bangun dah jam setengah lima pagi. Ayo sholat nduk?”. Difa yang baru membuka matanya segera menjawab “iya bu sebentar!”.

Difa menyalakan hp nya ternyata hampir ada 20 sms dari Dion, namun Difa mengabaikannya dan bergegas sholat agar tidak terlambat.

Tepat pukul 04.50 wib sesudah sholat subuh Dion mengirim beberapa sms lagi dengan niat mengajak Difa jalan-jalan. Difa yang sedang mencari teman untuk diajak jalan-jalan pagi merasa beruntung karena tak harus jalan-jalan pagi sendiri. Mereka berencana bertemu di simpang tiga SMPN TANJUNG 5.

Sejak saat itu Difa dan Dion saling mengenal dan mulai akrab. Dion yang mempunyai rasa melebihi dari sahabat selalu memperhatikan Difa dan berusaha menjadi teman serba guna untuk Difa. Dengan berjalannya waktu Dion semakin mengetahui bagaimana karakter Difa dan tahu apa yang disukai Difa.

Suatu ketika Dion main seperti biasa ke rumah Difa dengan membawa sepucuk surat untuk Difa. Difa yang aneh melihat sikap Dion dan membuka surat dari Dion yang bertuliskan ” I LOVE U” dengan jantung yang berdebar bagai waktu yang terhenti. Difa terdiam.

Dion yang lama menunggu jawaban dari Difa. Sedang Difa terdiam tak berucap aepatah kata. Karena yang Difa tahu adalah hanya berteman biasa. Dion pun berucap “kamu ga suka ya sama aku? Maafin aku ya!”.

Tiba-tiba wajah Dion berubah menjadi muram dan sedih. Dion mulai melangkah pulang. Namun Difa merasa banyak berhutang budi kepada Dion dan tak tega melihat Dion bersedih. Dengan cepat Difa memanggil Dion yang sedang berjalan lemas pulang.

“Dion….baiklah aku akan jawab!” Teriak Difa pasa Dion.

Langkah Dion pun terhenti dan berbalik ke arah Difa. Dengan harapan yang besar agar Difa menerimanya, Dion pun menunggu kata demi kata yang akan diucapkan Difa padanya.

“Baiklah, aku mau jadi pacarmu!”. Dengan terpaksa Difa mengatakan hal tersebut.

Semua yang Difa lakukan karena tak ingin membuat sahabatnya terluka. Difa tak tahu apa yang dilakukannya itu akan merugikan dirinya sendiri dan akan lebih menambah sakit hati pada Dion.

Difa merasa risih terlalu diatur dengan 1001 aturan yang dibuat Dion untuk Difa. Hampir tiap waktu Dion menanyakan kabarnya, mengecek hp nya, terlalu memperhatikannya sampai-sampai membuat dadanya sesak. Satu minggu telah berlalu Difa merasa hidupnya terbebani.

Seperti biasa Dion datang kerumah Difa dan Difa berniat ingin mengakhiri hubungan mereka dan Difa ingin memiliki hubungab seperti sebelumnya. Bercanda sebagai sahabat bukan sebagai pacar. Dion yang hanya diam tercengang bagaikan tubuh terhempas angin. Dion mendadak lemas. Lagi-lagi Difa tak ingin membuat Diob terluka, namun bila Difa melakukan kesalahan yang kedua kalinya itu akan lebih menyiksa batinnya bahkn membuat setengah gila dan tak bernafau berbuat apapun.

Sejak saat itu Dion sering meletakkan sebuket bunga mawar di depan rumah Difa. Karena Dion tahu bunga mawar adalah kesukaan Difa. Entah kapan Dion meletakkan bunga mawar itu. Dan dari mana Dion mendapatkan bungan yang hampir setiap hari ada di depan rumahnya itu.

Hal ini membuat Difa semakin bersalah. Pernah suatu ketika Dion menyanyikan lagu yang disukai Difa di depan rumah Difa tepat pukul 02.45 pagi. Entah bagaimana jalan pemikiran Dion sampai terlalu mencintai Difa. Dion tak pernah memperlihatkan dirinya dihadapan Difa. Difa menjadi pribadi yang dulu lagi sebelum mengenal Dion.

Namun masih teringat apa yang pernah diucapkan Dion sesaat diputuskan hubungannya dengan Difa “aku akan selau menjagamu walau dari kejauhan dan aku akan selalu mencintaimu entah sampai kapan rasa ini akan hilang termakan oleh waktu”

 

cerita pendek karya dari

Indri Kusuma Ningrum

Kelas XI IPA 4

Indri Kusuma Ningrum

Indri Kusuma Ningrum

1 comment

  1. ewiey shetiawan berkata:

    very nice

Leave a comment

Langganan Berita

Masukan Email Untuk Berlangganan Artikel Dan Berita Terbaru.

Facebook Smansada